Frustasi … ? “No way !! “

JAKARTA, KOMPAS.com — Dalam situasi tertentu kita dapat mengalami frustrasi. Persoalannya adalah bagaimana menghadapinya, bahkan mencegahnya, agar tidak berubah agresif, apalagi depresif, lalu bunuh diri.

Seorang laki-laki muda dengan wajah kusut, murung, dan lesu duduk termenung di teras rumah. Ia melakukannya berjam-jam setiap pagi sejak beberapa hari lalu. Ia seorang sarjana, lulus dengan nilai cukup.

Hampir enam bulan ia keliling kota Jakarta, masuk kantor yang satu ke kantor yang lain, tetapi hanya jawaban “tidak ada lowongan” yang ia terima. Beberapa lowongan yang diiklankan dilamarnya, tetapi ia selalu gagal pada saat-saat akhir tes.
“Apa artinya ijazah saya ini, Bu?” katanya kepada ibunya, “saya benar-benar frustrasi!”

Ada lagi profesional muda yang kembali dari perantauan di Eropa. Ia tinggal di Jerman sejak masuk SMA hingga lulus sebagai doktor dalam bidang teknik. Dengan usia cukup matang, ia bertekad kembali dan bekerja di Indonesia.

Sebagai akademisi, pria ini memilih bekerja di perguruan tinggi. Namun, waktu yang kurang dari setahun sebagai dosen dirasanya seperti bertahun-tahun. Irama dan iklim kerja di Eropa yang telah menyatu dengan dirinya sangat berbeda dengan tempat kerja barunya. Belum lagi ia melihat teman-teman lain telah memiliki jaringan sosial kerja di luar kampus sebagaimana umumnya para “insinyur” sehingga hidupnya tampak sangat efektif.

Ia telah mencoba ambil bagian dalam forum-forum ilmiah, tetapi karena tak dikenal, ia hanya menjadi peserta, bukan narasumber. Ia mencoba mencari dana penelitian, tetapi belum ada hasilnya.

“Sungguh lelah dan frustrasi rasanya. Banyak hal yang ingin saya lakukan, tetapi belum banyak yang dapat diwujudkan,” ujarnya.

Kenali penyebabnya
Richard Bugelski & Anthony M Graziano (1980) menyatakan, frustrasi merupakan perasaan, seperti marah atau kesal akibat tidak mampu melakukan sesuatu karena kondisi luar tidak seperti yang diinginkan. Frustrasi juga bisa muncul bila seseorang dicegah melakukan sesuatu yang ia inginkan.

Ahli lain, Leonard Berkowitz (1995), menyatakan bahwa frustrasi adalah reaksi emosional internal seseorang ketika keadaan lingkungan dirasa menghalangi atau menghambat pencapaian tujuannya.

Sigmund Freud, ahli psikoanalisis, menyatakan bahwa di dalam kepribadian kita terdapat bagian kekanak-kanakan yang selalu menuntut pemenuhan segera atas segala keinginannya. Bila keinginan “anak” dalam kepribadian kita terhalang, kita marah atau menampakkan perilaku emosional yang kurang dewasa.

Berdasarkan teori Freud di atas, dua psikolog, yaitu John Dollard dan Neal Miller, menyatakan bahwa frustrasi terjadi bila individu yang bermotivasi tinggi menghadapi penghalang dalam meraih tujuannya. Penghalang atau hambatan tersebut dapat berupa fisik, psikologis, atau simbolis.

Dalam bahasa sehari-hari dapat dinyatakan, penyebab frustrasi adalah kondisi eksternal yang membuat seseorang tidak dapat memperoleh kesenangan yang diharapkannya.

Menurut pandangan mereka, hasil yang diinginkan harus sudah diharapkan sebelumnya. Jadi, orang yang tidak memiliki harapan tentu tidak akan pernah mengalami frustrasi.

Contoh di atas menunjukkan, sarjana baru itu begitu frustrasi karena ia tidak segera mendapatkan pekerjaan seperti yang diharapkannya. Penghalangnya adalah tak adanya lowongan dan gagal dalam tes.

Demikian juga dengan doktor teknik yang frustrasi berat karena ia menghadapi iklim kerja yang sangat berbeda dengan ketika di Eropa. Ia juga belum berhasil menjadi pembicara dalam forum ilmiah. Harapannya untuk mendapat dana penelitian pun tak kunjung diraih.

Banyak penghalang dihadapinya: iklim atau budaya kerja berbeda, belum dikenal, dan belum mendapatkan dana penelitian.

Perilaku khusus
John B Watson, psikolog, menyatakan bahwa kita lahir membawa tiga pola emosional dasar yang siap kita tunjukkan sesuai stimulus yang ada. Tiga pola emosional dasar itu adalah rasa takut, marah, dan cinta.

Pola perilaku emosional yang muncul akibat frustrasi biasanya dalam wujud kemarahan. Orang yang keinginannya dihalangi atau terhalang, rasa frustrasinya akan berkembang. Perilakunya menjadi kurang terarah dan emosional (gampang marah). Padahal, kemarahan yang memuncak dapat menimbulkan tindakan agresif atau kekerasan.

Boleh dikata, setiap tindakan agresif biasanya dilatarbelakangi keadaan frustrasi. Namun, dalam kondisi frustrasi, orang tidak selalu menjadi agresif. Mereka yang tidak menjadi agresif ini umumnya menarik diri dari kehidupan sosialnya, mencari kepuasan lain, atau menjadi kecewa dan depresi.

Kedua kasus di atas tidak menunjukkan perilaku emosional yang agresif. Mereka hanya kecewa dengan situasi yang dihadapi dan kalau situasi tersebut tak segera berubah, mereka bisa menjadi depresif.

Pada kasus lain, seorang lelaki dari Kintamani nekat gantung diri karena frustrasi. Ia frustrasi karena impian akan kebahagiaan bersama istrinya sirna saat kecelakaan menimpa dan istrinya meninggal, sementara ia sendiri menderita luka yang tak kunjung sembuh.

Ia marah pada diri sendiri karena menjadi penyebab kematian istrinya sekaligus penghalang kebahagiaan yang dicita-citakan bersamanya. Ia menarik diri dan berkembang depresif. Kemarahan pada diri sendiri ia wujudkan dengan tindakan bunuh diri.

Berlatih toleransi
Dalam kehidupan sehari-hari kita banyak belajar bahwa segala sesuatu yang diinginkan tidak mudah kita capai. Bila kita meletakkan harapan terlalu tinggi dan tak bisa meraihnya, yang didapat ialah frustrasi. Sebaliknya, meletakkan harapan terlalu rendah, padahal mampu menggapai, tetapi meremehkannya, akhirnya kita hanya kehilangan kesempatan yang belum tentu akan terjadi lagi.

Untuk mengatasi frustrasi, kita perlu memiliki semacam tingkat atau kadar toleransi terhadap frustrasi. Toleransi terhadap frustrasi ini sebaiknya dilatih sejak masa kanak-kanak.

Kita perlu mengajarkan kepada anak bahwa sesuatu tidak selalu berjalan seperti yang diharapkan. Apa yang mereka inginkan tidak akan selalu didapatkan. Mulai dari hal-hal kecil kita ajari anak-anak untuk sesekali merasakan kecewa karena tidak (atau tertunda) mendapatkan apa yang ia inginkan.

Perlu pula kita memperlihatkan alternatif atau kemungkinan lain sebagai pengganti sehingga mereka juga belajar melihat kemungkinan selain yang diharapkannya.
Dengan demikian, secara alami, mereka belajar menoleransi frustrasi.

Diharapkan, pada masa dewasa mereka terlatih menghadapi kekecewaan dan lebih tahan banting terhadap rasa frustrasi. Pada orang dewasa, toleransi frustrasi dapat dilatih dengan lebih realistis menghadapi kenyataan dan tidak meletakkan harapan terlalu tinggi.

Kita juga perlu memperluas pergaulan untuk meningkatkan wawasan terhadap kemungkinan atau peluang lain yang sebetulnya mampu kita raih. Siapa tahu dari hal-hal kecil dapat kita kembangkan menjadi besar yang memberikan kepuasan dan kebanggaan tersendiri?

Banyak contoh orang besar, kaya, dan terkenal yang memulainya dari hal-hal kecil, yang mungkin kita sepelekan sebelumnya. Yang terpenting kita melakukan segala sesuatu dengan sepenuh hati, baik, dan penuh kesungguhan.
Give your best! @

MM Nilam Widyarini Msi, Kandidat doktor psikologi

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: