Ubah Paradigma dalam Mendidik Anak

JAKARTA, KOMPAS.com — Berbicara dunia pendidikan seorang anak, tidak dapat dilepaskan dari unsur sekolah dan orangtua sebagai pendidik. Kadang terjadi perbedaan paradigma mengajar di antara keduanya. Perlu sebuah penyamaan cara pandang, terutama dalam mendidik si anak tersebut.

Itulah tips yang diberikan Munif Chatib, konsultan pendidikan dan alumnus DL Supercamp California, saat menjadi pembicara dalam seminar “Belajar ala Multiple Intelligences” kepada 200 orangtua di Lazuardi Global Islamic School, Limo, Depok, Sabtu (21/3).

“Jangan selalu mengukur kecerdasan anak dari sisi akademisnya, namun ada ruang khusus dalam diri si anak berupa kecerdasan emosional,” terangnya.

Ia menganjurkan kepada orangtua untuk membebaskan si anak dalam beraktivitas karena belajar tidak melulu diam mendengarkan guru bicara, tetapi hadir dari kegiatan-kegiatan ekstrakelas.

“Masih banyak orangtua yang berpikir demikian, maka sangat tepat sebuah sekolah yang menerapkan 30 persen dalam mengajar, selebihnya adalah beraktivitas,” ungkapnya.

Selain itu, jauhkan pandangan the best school from the best input. “Padahal the best school from the best process,” katanya.

Menurut Munif, banyak sekolah dengan sarana prasarana baik mensyaratkan jenis anak yang boleh masuk, misalnya memiliki kemampuan akademis yang tinggi dan penurut. “Bila demikian, dikemanakan anak-anak yang bodoh, bandel, hiperaktif, atau autis?” ujarnya.

Tak hanya itu, Munif memberikan gambaran jenis sekolah yang baik adalah menjunjung unsur-unsur manusiawi. “Manusiawi itu kan alamiah, tidak mencekoki anak dengan teori-teori yang tidak dipahami, jangan seperti robotlah,” terangnya.

Testimonial Lani (35), peserta seminar, mengharapkan ada seminar-seminar serupa dalam mendidik anak. “Saya semakin paham bagaimana mengatasi anak saya yang cerewet,” ungkapnya.
Menurut Lani, anaknya Razan yang berumur 10 tahun sangat sulit dikendalikan, terutama saat bertanya. “Saya selalu berpikir bagaimana menghentikannya, ia selalu bertanya terus tanpa bisa dihentikan,” ungkapnya.
Namun, setelah seminar ini, Lina mengubah paradigmanya untuk menghadirkan terus jawaban dari pertanyaan yang diajukan Razan. “Jadi saya memang yang harus belajar juga,” katanya.

Salman (43) juga mengaku bahwa paradigma pendidikan konvensional harus dihilangkan, seperti menghardik anak bila tidak sesuai dengan pandangan orangtua. “Anak pinter bukan diukur dari akademisnya. Kita sebagai orangtua harus pinter-pinter menerapkan metode multiple intelegencia (kecerdasan majemuk),” ungkapnya.Yaitu, menemukan keunggulan anak tidak hanya dari sisi akademis.

Lain halnya dengan Vivi Adelia Yahya, perempuan yang lebih dikenal sebagai presenter, ini lebih menyerahkan pendidikan anaknya kepada guru yang bersangkutan. “Saya tidak mau sok tahu, emang siapa saya, kan guru lebih tahu bagaimana cara mendidik anak yang baik. Selebihnya saya mengikuti,” ungkapnya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: