Puasa Sebuah Perang Modern

Kehancuran manusia banyak disebabkan karena ketidakmampuan menahan do­rongan nafsu. Gambaran me­ngenai hal tersebut banyak terdapat dalam sejarah di kebudayaan manapun. Bahkan dalam penciptaan manusia pertama yaitu Nabi Adam, kitab suci sudah memberikan ilustrasi tentang bagai­mana akibat apabila manusia tidak dapat mengendalikan nafsu.

Sebagaimana dituliskan dalam Al Quran, “Allah lalu berfirman kepada Adam: Hai, Adam! Tinggallah engkau dengan isterimu di dalam surga ini. Makan dan minumlah sepuas puasnya. Tetapi awas, janganlah engkau berdua memakan buah dari pohon ini. Bila engkau berdua memakannya, berarti engkau berdua melanggar perintahKu, dan engkau berdua akan mengalami kerugian besar, dan berarti aniaya terhadap dirimu sendiri.” (QS. Al Baqarah:35)

Di dalam surga terdapat banyak jenis buah-buahan lezat yang semuanya boleh dimakan oleh Adam dan Hawa, kecuali buah khuldi tersebut. Namun dorongan nafsu membuat Adam melanggar larangan itu yang membuat ia dan istrinya harus turun ke bumi. Adam dan Hawa harus meninggalkan surga yang penuh kesenangan menuju tempat dimana kelak banyak manusia hidup penuh permasalahan dan konflik, bahkan iri dan dengki.

Keturunan Adam pertama yaitu Qabil juga dikisahkan tak mampu mengendalikan nafsu sehingga ia membunuh saudaranya Habil. Kejadian ini menjadi sejarah terjadinya tragedi pembunuhan pertama di muka bumi. “Maka hawa nafsu Qabil menjadikannya menganggap mudah membunuh saudaranya, sebab itu dibunuhnyalah. Maka jadilah ia seorang di antara orang-orang yang merugi.” (QS. al-Maidah:30).

Kisah-kisah di atas memberi gambaran betapa nafsu manusia pada akhirnya seringkali meng­hancurkan diri sendiri (self destruction). Manusia adalah makhluk yang diciptakan secara sempurna, dikaruniai nafsu sekaligus akal untuk mengendalikannya. Nafsu manusia yang tidak terkendali seringkali mengakibatkan keburukan dan membawa kehancuran.

Orang yang yang dikuasai nafsu, niscaya kecerdasan intelektualnya (IQ) tidak terkendali. Manusia yang masuk golongan ini kecerdasan emosinya (EQ) rendah sehingga tidak mempunyai rasa bersalah, karena nafsunya telah membelengu kecerdasan spiritualnya (SQ) dan menjadi pengendali intelektualnya. Jika IQ sudah tidak bekerja maka ia akan lupa rambu-rambu agama yang bisa dirasakan (EQ) dan hati nurani yang dikendalikan SQ, se­hingga melakukan tindakan yang melawan hukum dan menghalalkan segala cara.

Nafsu yang tidak terkendali selalu berakibat buruk, merugikan, dan menimbulkan penyesalan. Terjadinya kerusakan alam, penyalahgunaan jabatan, mengkonsumsi narkoba, dan kemarahan tak terkendali, merupakan bagian dari nafsu yang tak terkendali yang merugikan dan akhirnya dapat menghancurkan diri sendiri.

Nafsu sesungguhnya bukan untuk dibunuh, namun untuk dikendalikan. Pengendalian diri dalam ajaran manapun dilatih dengan jalan melakukan puasa. Beberapa hal dalam diri manusia yang harus dikendalikan yaitu panca indera, perut, syahwat, ataupun perasaan.

Pengendalian diri merupakan interaksi kecerdasan intelektual, emosi, dan spiritual. Howard Rach­lin mengatakan bahwa kebanyakan masalah self control disebabkan karena ketidakmampuan menunda kepuasan sesaat (delaying imme­diate gratification) untuk masa depan yang lebih baik.

Karena itu manusia diperin­tahkan menjalankan puasa selama 30 hari di bulan Ramadhan yang tujuannya agar manusia mampu mengontrol hawa nafsunya. Puasa akan membuat kita terlatih untuk dapat menunda kepuasan, sehingga akhirnya dapat menyelaraskan intelektual, emosional, dan spiri­tual. Pengendalian diri bukan ha­nya pada hal yang bersifat fisik namun emosi juga spiritual. Namun masih banyak yang mengartikan puasa pada hal yang sifatnya fisik, mereka berhenti makan dan minum, namun tetap ‘makan’ kayu gelondongan, aspal, dan lain-lain.

Rasulullah menyatakan bahwa perang melawan diri (nafsu) lebih berat dari perang manapun. Karena itu pengendalian diri merupakan sesuatu yang sangat penting, bah­kan termasuk jihad akbar. Rasulullah saw. pernah bersabda kepada para sahabatnya tatkala mereka baru pulang dari medan laga, “Kamu baru saja pulang dari jihad kecil menuju jihad yang lebih besar”. Ditanyakan kepada beliau, “Apakah yang dimaksud dengan jihad besar itu.” Beliau menjawab, “Jihad besar adalah perang melawan hawa nafsu.”

Itulah sesungguhnya perang modern yang terus berlangsung hingga saat ini, yaitu perang melawan nafsu yang mengendalikan pikiran dan hati. Negarawan asal Inggris Winston Churchill pernah mengatakan, “The empires of the future are the empires of the mind”. Saat ini, tanpa disadari ada rekayasa global yang menggempur pikiran kita agar dikuasai paham materialisme, konsumerisme, dan egoisme. Semoga bulan suci Ramadhan kali ini membebaskan kita dari nafsu yang membelenggu kebebasan spiritual manusia.

Oleh: Ary Ginanjar Agustian

sumber : esqmagazine.com

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: