5W 1H

Setiap kali membahas tentang teori yang berhubungan dengan berita, orang selalu menyebut soal konsep 5W1H (what, who, why, where, when, how). Kita bosan? Jangan. Sebab, sebagaimana halnya dalam menulis berita, konsep 5W1H juga penting dijadikan pegangan dalam meliput berita.

Dalam peristiwa apapun, pasti di dalamnya melibatkan orang atau benda (who) yang sedang melakukan aktivitas, baik pasif maupun aktif (what), di suatu tempat (where) dan waktu (when) tertentu karena sebab (why) tertentu sehingga menimbulkan efek (how) tertentu pula.

Kalau kita ingat 5W1H dan setiap elemen di dalamnya kita eksplorasi setiap kali melalukan liputan, maka kita telah mendapatkan data yang cukup untuk penulisan suatu berita.

Sebagai contoh, kita melihat kecelakaan di jalan raya. Data apa saja yang harus kita kumpulkan? Catat saja hal-hal di bawah ini (penomoran tidak berarti ada prioritas, tetapi bisa mana saja yang terlebih dahulu bisa kita dapat):

  1. Catat/ingat who-nya. Catat semua identitas (mulai nama, umur alamat, ciri-ciri fisik tertentu, pakaian yang dikenakan dsb-dsb) orang yang terlibat. Orang yang terlibat bisa sopir kendaraan yang bertabrakan, penumpang, pejalan kaki yang jadi korban, para penolong, juga polisi yang menangani kasus itu (kalau ada). Termasuk who di sini adalah obyek/benda mati yang terlibat misalnya jenis kendaraan (catat identitasnya, jenis, warna dsb), bangunan yang jadi korban (misalnya bus menabrak palang jembatan) dsb.
  2. Catat/ingat what-nya. Dalam hal ini adalah bentuk/jenis kejadian. Misalnya tabrakan tunggal atau tabrakan karambol dsb.
  3. Catat/ingat why-nya atau penyebabnya. Misalnya rem blong, sopir ngantuk, pejalan kaki terlalu berjalan ke tengah, datang kabut yang menghalangi pandangan, dsb.
  4. Catat/ingat when-nya. Misalnya Sabtu (17/12) sore; saat bubaran sekolah; ketika pekerja istirahat siang, dsb.
  5. Catat/ingat where-nya. Misal “jalan Amburadul KM 15” Cikoplo; depan rumah makan “Marakke Warek” Jalan Slamet Riyadi, Solo; dekat tempat mangkal PSK “Edan Kabeh”, Kecamatan Sukamabuk; dsb.
  6. Catat/ingat how-nya. Misalnya, “empat orang tewas di tempat kejadian”, “satu luka parah tiga lainnya hanya lecet-lecet”, “tembok rumah jebol menewaskan satu pekerja di dalamnya”; dsb.

Data sekunder

Data-data tersebut bisa kita dapatkan dari observasi lapangan, bertanya kepada saksi/orang yang terlibat, polisi, warga setempat, petugas rumah sakit dsb. Untuk kelengkapan dalam penulisan berita, kita perlu juga melengkapi dengan mencari data sekunder seperti data kecelakaan selama setahun di daerah tempat peristiwa terjadi dsb.

Dari data yang terkumpul, maka kita sudah dapat membuat sebuah berita sekilas menggunakan model penulisan piramida terbalik (Apa piramida terbalik? Kita bahas pada bagian menulis berita nanti):

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: